<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Ilmu Bedah</title>
	<atom:link href="http://ilmubedah.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://ilmubedah.wordpress.com</link>
	<description>Blog Tentang Ilmu Bedah</description>
	<lastBuildDate>Wed, 20 Oct 2010 12:07:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='ilmubedah.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Ilmu Bedah</title>
		<link>http://ilmubedah.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://ilmubedah.wordpress.com/osd.xml" title="Ilmu Bedah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://ilmubedah.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Hipospadia</title>
		<link>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/10/20/hipospadia/</link>
		<comments>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/10/20/hipospadia/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Oct 2010 12:07:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ilmubedah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bedah Anak]]></category>
		<category><![CDATA[chordee]]></category>
		<category><![CDATA[Hipospadia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilmubedah.wordpress.com/?p=27</guid>
		<description><![CDATA[Hipospadia merupakan kelainan abnormal dari perkembangan uretra anterior dimana muara dari uretra terletak ektopik pada bagian ventral dari penis proksimal hingga glands penis. Muara dari uretra dapat pula terletak pada skrotum atau perineum. Semakin ke proksimal defek uretra maka penis akan semakin mengalami pemendekan dan membentuk kurvatur yang disebut “chordee”.  Pada abad pertama, ahli bedah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmubedah.wordpress.com&amp;blog=14234127&amp;post=27&amp;subd=ilmubedah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><span style="color:#000000;"><a href="http://ilmubedah.blogspot.com/2010/10/hipospadia.html" target="_blank">Hipospadia</a></span> merupakan kelainan abnormal dari perkembangan uretra  anterior dimana muara dari uretra terletak ektopik pada bagian ventral  dari penis proksimal hingga glands penis. Muara dari uretra dapat pula  terletak pada skrotum atau perineum. Semakin ke proksimal defek uretra  maka penis akan semakin mengalami pemendekan dan membentuk kurvatur yang  disebut <em>“chordee”. <span id="more-27"></span></em></p>
<p style="text-align:justify;">Pada abad pertama, ahli bedah dari Yunani Heliodorus dan Antilius,  pertama-tama yang melakukan penanggulangan untuk <span style="color:#000000;"><a href="http://www.bedahugm.net/hipospadia/" target="_blank">hipospadia</a></span>. Dilakukan  amputasi dari bagian penis distal dari meatus. Selanjutnya cara ini  diikuti oleh Galen dan Paulus dari Agentia pada tahun 200 dan tahun 400.</p>
<p style="text-align:justify;">Duplay memulai era modern pada bidang ini pada tahun 1874 dengan  memperkenalkan secara detail rekonstruksi uretra. Sekarang, lebih dari  200 teknik telah dibuat dan sebagian besar merupakan <em>multi-stage reconstruction</em>; yang terdiri dari <em>first emergency stage</em> untuk mengoreksi <em>stenotic meatus</em> jika diperlukan dan <em>second stage</em> untuk menghilangkan <em>chordee</em> dan recurvatum, kemudian pada <em>third stage</em> yaitu urehtroplasty.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa masalah yang berhubungan dengan teknik <em>multi-stage</em> yaitu; membutuhkan operasi yang multiple; sering terjadi meatus tidak  mencapai ujung glands penis; sering terjadi striktur atau fistel uretra;  dan dari segi estetika dianggap kurang baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada tahun 1960, Hinderer memperkenalkan teknik <em>one-stage repair</em> untuk mengurangi komplikasi dari teknik <em>multi-stage repair</em>.  Cara ini dianggap sebagai rekonstruksi uretra yang ideal dari segi  anatomi dan fungsionalnya, dari segi estetik dianggap lebih baik,  komplikasi minimal, dan mengurangi <em>social cost</em>.</p>
<p style="text-align:justify;" lang="en-US"><strong>Insidens</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong> Hipospadia terjadi 1:300 kelahiran bayi laki-laki hidup di Amerika  Serikat. Kelainan ini terbatas pada uretra anterior. Pemberian estrogen  dan progestin selama kehamilan diduga meningkatkan insidensinya. Jika  ada anak yang hipospadia maka kemungkinan ditemukan 20% anggota keluarga  yang lainnya juga menderita hipospadia. Meskipun ada riwayat familial  namun tidak ditemukan ciri genetik yang spesifik.</p>
<p style="text-align:justify;" lang="en-US">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;" lang="en-US"><strong>ANATOMI</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Uretra  merupakan tabung yang menyalurkan urine ke luar dari buli-buli melalui  proses miksi. Pada pria organ ini berfungsi juga dalam menyalurkan  cairan mani.<sup>9</sup></p>
<p style="text-align:justify;">Uretra diperlengkapi dengan sfingter uretra interna yang terletak pada  perbatasan buli-buli dan uretra, dan sfingter uretra eksterna yang  terletak pada perbatasan uretra anterior dan posterior. Secara anatomis  uretra dibagi menjadi dua bagian yaitu:</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>
<p lang="en-US">Uretra pars anterior, yaitu uretra yang dibungkus oleh korpus 	 spongiosum penis, terdiri dari: pars bulbosa, pars pendularis, fossa 	 navikulare, dan meatus uretra eksterna.</p>
</li>
<li>
<p lang="en-US">Uretra pars posterior, terdiri dari uretra pars prostatika, yaitu 	 bagian uretra yang dilengkapi oleh kelenjar prostat, dan uretra pars 	 membranasea.</p>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;" lang="en-US"><strong>Embriologi</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Pada  embrio yang berumur 2 minggu baru terdapat 2 lapisan yaitu ektoderm dan  endoderm. Baru kemudian terbentuk lekukan di tengah-tengah yaitu  mesoderm yang kemudian bermigrasi ke perifer, memisahkan ektoderm dan  endoderm, sedangkan di bagian kaudalnya tetap bersatu membentuk membran kloaka. Pada permulaan minggu ke-6, terbentuk tonjolan antara <em>umbilical cord</em> dan <em>tail</em> yang disebut <em>genital tubercle. </em>Di bawahnya pada garis tengah terbenuk lekukan dimana di bagian lateralnya ada 2 lipatan memanjang yang disebut <em>genital fold</em>.</p>
<p style="text-align:justify;">Selama minggu ke-7, <em>genital tubercle</em> akan memanjang dan membentuk glans. Ini adalah bentuk primordial dari  penis bila embrio adalah laki-laki, bila wanita akan menjadi klitoris.  Bila terjadi agenesis dari mesoderm, maka <em>genital tubercle </em>tak terbentuk, sehingga penis juga tak terbentuk.</p>
<p style="text-align:justify;">Bagian anterior dari membrana kloaka, yaitu membrana urogenitalia akan ruptur dan membentuk sinus. Sementara itu <em>genital fold</em> akan membentuk sisi-sisi dari sinus urogenitalia. Bila <em>genital fold</em> gagal bersatu di atas sinus urogenitalia, maka akan terjadi hipospadia.</p>
<p style="text-align:justify;" lang="en-US"><strong>ETIOLOGI</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong> </strong>Penyebab  pasti hipospadia tidak diketahui secara pasti. Beberapa etiologi dari  hipospadia telah dikemukakan, termasuk faktor genetik, endokrin, dan  faktor lingkungan. Sekitar 28% penderita ditemukan adanya hubungan  familial.<strong> </strong>Pembesaran tuberkel genitalia dan perkembangan lanjut  dari phallus dan uretra tergantung dari kadar testosteron selama proses  embriogenesis. Jika testis gagal memproduksi sejumlah testosteron atau  jika sel-sel struktur genital kekurangan reseptor androgen atau tidak  terbentuknya <em>androgen converting enzyme </em>(5 alpha-reductase) maka hal-hal inilah yang diduga menyebabkan terjadinya hipospadia.</p>
<p style="text-align:justify;" lang="en-US">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;" lang="en-US"><strong>KLASIFIKASI</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Klasifikasi hipospadia yang sering digunakan yaitu berdasarkan lokasi meatus yaitu :</p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>
<p lang="en-US">Glandular, muara penis terletak pada daerah proksimal glands penis</p>
</li>
<li>
<p lang="en-US">Coronal, muara penis terletak pada daerah sulkus coronalia</p>
</li>
<li>
<p lang="en-US">Penile shaft</p>
</li>
<li>
<p lang="en-US">Penoscrotal</p>
</li>
<li>
<p lang="en-US">Perineal.</p>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;" lang="en-US">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;" lang="en-US"><strong>DIAGNOSIS</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Diagnosis hipospadia biasanya jelas pada pemeriksaan inspeksi.  Kadang-kadang hipospadia dapat didiagnosis pada pemeriksaan ultrasound  prenatal. Jika tidak teridentifikasi sebelum kelahiran, maka biasanya  dapat teridentifikasi pada pemeriksaan setelah bayi lahir.</p>
<p style="text-align:justify;">Pada orang dewasa yang menderita hipospadia dapat mengeluhkan kesulitan untuk mengarahkan pancaran urine. <em>Chordee </em>dapat  menyebabkan batang penis melengkung ke ventral yang dapat mengganggu  hubungan seksual. Hipospadia tipe perineal dan penoscrotal menyebabkan  penderita harus miksi dalam posisi duduk, dan hipospadia jenis ini dapat  menyebabkan infertilitas.</p>
<p style="text-align:justify;">Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan yaitu <em>urethtroscopy</em> dan <em>cystoscopy </em>untuk memastikan organ-organ seks internal terbentuk secara normal. <em>Excretory urography</em> dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya abnormalitas kongenital pada ginjal dan ureter.</p>
<p style="text-align:justify;" lang="en-US">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;"><strong>DIAGNOSIS BANDING </strong></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>
<p lang="en-US">Ambiguous Genitalia</p>
</li>
<li>
<p lang="en-US">Anomali Genitalia</p>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;" lang="en-US">&nbsp;</p>
<p style="text-align:justify;" lang="en-US"><strong>PENATALAKSANAAN</strong></p>
<p style="text-align:justify;">Penatalaksanaan hipospadia adalah dengan jalan pembedahan. Tujuan prosedur pembedahan pada hipospadia adalah:<sup>5,8</sup></p>
<ol style="text-align:justify;">
<li>Membuat 	penis yang lurus dengan memperbaiki <em>chordee</em></li>
<li>
<p lang="en-US">Membentuk uretra dan meatusnya yang bermuara pada ujung penis 	(Uretroplasti)</p>
</li>
<li>
<p lang="en-US">Untuk mengembalikan aspek normal dari genitalia eksterna (kosmetik)</p>
</li>
</ol>
<p style="text-align:justify;">Pembedahan  dilakukan berdasarkan keadaan malformasinya. Pada hipospadia glanular  uretra distal ada yang tidak terbentuk, biasanya tanpa recurvatum,  bentuk seperti ini dapat direkonstruksi dengan flap lokal (misalnya,  prosedur Santanelli, Flip flap, MAGPI [<em>meatal advance and glanuloplasty</em>], termasuk preputium plasty).</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ilmubedah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ilmubedah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ilmubedah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ilmubedah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ilmubedah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ilmubedah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ilmubedah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ilmubedah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ilmubedah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ilmubedah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ilmubedah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ilmubedah.wordpress.com/27/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ilmubedah.wordpress.com/27/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ilmubedah.wordpress.com/27/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmubedah.wordpress.com&amp;blog=14234127&amp;post=27&amp;subd=ilmubedah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/10/20/hipospadia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d04de6f8b01b8060c9ded5445cbf75d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilmubedah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Penanganan Fraktur Humerus</title>
		<link>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/06/17/penanganan-fraktur-humerus/</link>
		<comments>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/06/17/penanganan-fraktur-humerus/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 06:14:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ilmubedah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bedah Ortopedi]]></category>
		<category><![CDATA[Fraktur]]></category>
		<category><![CDATA[Fraktur Humerus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilmubedah.wordpress.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Fraktur adalah terputusnya keutuhan tulang, umumnya akibat trauma. Patah tulang tertutup adalah patah tulang dimana tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar. Pendapat lain menyatakan bahwa patah tulang tertutup adalah suatu fraktur yang bersih (karena kulit masih utuh atau tidak robek) tanpa komplikasi (Handerson, M. A, 1992). Klasifikasi fraktur humerus 1. Fraktur proksimal [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmubedah.wordpress.com&amp;blog=14234127&amp;post=18&amp;subd=ilmubedah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.bedahugm.net/fraktur" target="_blank">Fraktur</a> adalah terputusnya keutuhan tulang,  umumnya akibat trauma. Patah tulang tertutup adalah patah tulang dimana  tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.  Pendapat lain menyatakan bahwa patah tulang tertutup adalah suatu  fraktur yang bersih (karena kulit masih utuh atau tidak robek) tanpa  komplikasi (Handerson, M. A, 1992).<span id="more-18"></span></p>
<p style="text-align:justify;"><span style="color:#0000ff;"><strong>Klasifikasi <a href="http://www.bedahugm.net/fraktur-humerus/" target="_blank">fraktur humerus</a></strong></span></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>1. Fraktur proksimal humerus</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>2. </strong><strong>Fraktur  Shaft Humerus ( 1/3 tengah )</strong><strong></strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>3. </strong><strong>Fraktur Distal Humerus ( Kondilus Humeri )</strong></p>
<p style="text-align:justify;"><strong>I. JENIS FRAKTUR</strong><br />
a. Fraktur komplet :  patah pada seluruh garis tengah tulang dan biasanya mengalami  pergeseran.<br />
b. Fraktur tidak komplet: patah hanya pada sebagian dari  garis tengah tulang<br />
c. Fraktur tertutup:  fraktur tapi tidak  menyebabkan robeknya kulit<br />
d. <a href="http://www.bedahugm.net/fraktur-terbuka/" target="_blank">Fraktur terbuka</a>: fraktur dengan luka  pada kulit atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.<br />
e.  Greenstick: fraktur dimana salah satu sisi tulang patah,sedang sisi  lainnya membengkak.<br />
f. Transversal: fraktur sepanjang garis tengah  tulang<br />
g. Kominutif: fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa  frakmen<br />
h. Depresi: fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam<br />
i.  Kompresi: Fraktur dimana tulang mengalami kompresi (terjadi pada tulang  belakang)<br />
j. Patologik: fraktur yang terjadi pada daerah tulang   oleh ligamen atau tendo pada daerah perlekatannnya.</p>
<p><strong>III.  ETIOLOGI</strong><br />
a. Trauma<br />
b. Gerakan pintir  mendadak<br />
c. Kontraksi  otot ekstem<br />
d. Keadaan patologis : osteoporosis, neoplasma</p>
<p><strong>IV. MANIFESTASI KLINIS</strong><br />
a. Nyeri terus  menerus dan bertambah beratnya samapi fragmen tulang diimobilisasi,  hematoma, dan edema<br />
b. Deformitas karena adanya pergeseran fragmen  tulang yang patah<br />
c. Terjadi pemendekan tulang yang sebenarnya karena  kontraksi otot yang melekat  diatas dan dibawah tempat fraktur<br />
d.  Krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan lainnya<br />
e.  Pembengkakan dan perubahan warna lokal pada kulit</p>
<p><strong>V. PEMERIKSAAN  PENUNJANG</strong><br />
a. Pemeriksaan foto radiologi dari fraktur : menentukan  lokasi, luasnya<br />
b. Pemeriksaan jumlah darah lengkap<br />
c.  Arteriografi : dilakukan bila kerusakan vaskuler dicurigai<br />
d.  Kreatinin : trauma otot meningkatkanbeban kreatinin untuk klirens ginjal</p>
<p><strong>VI.  PENATALAKSANAAN</strong></p>
<p>a. Reduksi fraktur terbuka atau tertutup :  tindakan manipulasi fragmen-fragmen tulang yang patah sedapat mungkin   untuk kembali seperti letak semula.<br />
b. Imobilisasi fraktur<br />
Dapat  dilakukan dengan fiksasi eksterna atau interna<br />
c. Mempertahankan dan  mengembalikan fungsi<br />
- Reduksi dan imobilisasi harus dipertahankan  sesuai kebutuhan<br />
- Pemberian analgetik untuk mengerangi nyeri<br />
-  Status neurovaskuler (misal: peredarandarah, nyeri, perabaan gerakan)  dipantau<br />
- Latihan isometrik dan setting otot diusahakan untuk  meminimalakan atrofi disuse dan meningkatkan peredaran darah</p>
<p><strong>VII.  KOMPLIKASI</strong><br />
a. Malunion : tulang patah telahsembuh dalam posisi yang  tidak seharusnya.<br />
b. Delayed union : proses penyembuhan yang terus  berjlan tetapi dengan kecepatan yang lebih lambat dari keadaan normal.<br />
c.  Non union : tulang yang tidak menyambung kembali</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ilmubedah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ilmubedah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ilmubedah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ilmubedah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ilmubedah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ilmubedah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ilmubedah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ilmubedah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ilmubedah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ilmubedah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ilmubedah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ilmubedah.wordpress.com/18/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ilmubedah.wordpress.com/18/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ilmubedah.wordpress.com/18/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmubedah.wordpress.com&amp;blog=14234127&amp;post=18&amp;subd=ilmubedah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/06/17/penanganan-fraktur-humerus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d04de6f8b01b8060c9ded5445cbf75d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilmubedah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Trauma Thorak</title>
		<link>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/06/17/trauma-thorak/</link>
		<comments>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/06/17/trauma-thorak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 04:47:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ilmubedah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bedah Thorak Kardiovaskuler]]></category>
		<category><![CDATA[Hematothorak]]></category>
		<category><![CDATA[Pneumothorak]]></category>
		<category><![CDATA[Trauma Dada]]></category>
		<category><![CDATA[Trauma Thorak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilmubedah.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[I. KONSEP DASAR A. Pengertian Trauma thorak atau Trauma Dada adalah semua ruda paksa pada thorak dan dinding thorak, baik trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul. (Lap. UPF bedah, 1994). Pada Trauma Thorak bisa terjadi hematothorak atau Pneumothorak. Hematotorax adalah tedapatnya darah dalam rongga pleura, sehingga paru terdesak dan terjadinya perdarahan. Pneumotorax adalah terdapatnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmubedah.wordpress.com&amp;blog=14234127&amp;post=12&amp;subd=ilmubedah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">I. KONSEP DASAR<br />
A. Pengertian<br />
<a href="http://ilmubedah.blogspot.com/2010/06/trauma-dada-atau-trauma-thorak.html" target="_blank">Trauma  thorak atau Trauma Dada</a> adalah semua ruda paksa pada thorak dan dinding thorak, baik  trauma atau ruda paksa tajam atau tumpul. (Lap. UPF bedah, 1994). Pada <a href="http://www.bedahugm.net/trauma-thorak/" target="_blank">Trauma Thorak</a> bisa terjadi hematothorak atau Pneumothorak.<br />
Hematotorax  adalah tedapatnya darah dalam rongga pleura, sehingga paru terdesak dan  terjadinya perdarahan.<br />
<a href="http://ilmubedah.blogspot.com/2010/06/pneumothorak.html" target="_blank">Pneumotorax</a> adalah terdapatnya udara dalam  rongga pleura, sehingga paru-paru dapat terjadi kolaps.<span id="more-12"></span></p>
<p>B.  Anatomi<br />
1. Anatomi Rongga Thoraks<br />
Kerangka dada yang terdiri  dari tulang dan tulang rawan, dibatasi  oleh :<br />
- Depan  : Sternum  dan tulang iga.<br />
- Belakang : 12 ruas tulang belakang (diskus  intervertebralis).<br />
- Samping : Iga-iga beserta otot-otot  intercostal.<br />
- Bawah : Diafragma<br />
- Atas  : Dasar leher.</p>
<p>Isi  :<br />
- Sebelah kanan dan kiri rongga toraks terisi penuh oleh paru-paru  beserta pembungkus pleuranya.<br />
- Mediatinum : ruang di dalam rongga  dada antara kedua paru-paru. Isinya meliputi jantung dan  pembuluh-pembuluh darah besar, oesophagus, aorta desendens, duktus  torasika dan vena kava superior, saraf vagus dan frenikus serta sejumlah  besar kelenjar limfe (Pearce, E.C., 1995).</p>
<p>Gambar Rongga Thoraks  :</p>
<p style="text-align:justify;">- terdapat  luka pada WSD &#8211; Kerusakan integritas kulit<br />
- nyeri pada luka bila  untuk &#8211; Resiko terhadap infeksi<br />
bergerak. &#8211; Perubahan kenyamanan :  Nyeri<br />
perawatan WSD harus di &#8211; Ketidak efektifan pola pernapasan<br />
perhatikan.  &#8211; Gangguan mobilitas fisik<br />
- Inefektif bersihan jalan napas &#8211;  Potensial Kolaboratif : Atelektasis dan<br />
Pergeseran mediatinum</p>
<p>C.  Pemeriksaan Penunjang :<br />
a. Photo toraks (pengembangan paru-paru).<br />
b.  Laboratorium (Darah Lengkap dan Astrup).</p>
<p>D. Penatalaksanaan<br />
1.  Bullow  Drainage / WSD<br />
Pada trauma toraks, WSD dapat berarti :</p>
<p>a.  Diagnostik :<br />
Menentukan perdarahan dari pembuluh darah besar atau  kecil, sehingga dapat ditentukan perlu operasi torakotomi atau tidak,  sebelum penderita jatuh dalam shock.</p>
<p>b. Terapi :<br />
Mengeluarkan  darah atau udara yang terkumpul di rongga pleura. Mengembalikan tekanan  rongga pleura sehingga &#8220;mechanis of breathing&#8221; dapat kembali seperti  yang seharusnya.</p>
<p>c. Preventive :<br />
Mengeluarkan udaran atau  darah yang masuk ke rongga pleura sehingga &#8220;mechanis of breathing&#8221; tetap  baik.</p>
<p>2. Perawatan WSD dan pedoman latihanya :<br />
a.  Mencegah infeksi di bagian masuknya slang.<br />
Mendeteksi di bagian  dimana masuknya slang, dan pengganti verband 2 hari sekali, dan perlu  diperhatikan agar kain kassa yang menutup bagian masuknya slang dan tube  tidak boleh dikotori waktu menyeka tubuh pasien.</p>
<p>b. Mengurangi  rasa sakit dibagian masuknya slang. Untuk rasa sakit yang hebat akan  diberi analgetik oleh dokter.</p>
<p>c. Dalam perawatan yang harus  diperhatikan :<br />
- Penetapan slang.<br />
Slang diatur se-nyaman mungkin,  sehingga slang yang dimasukkan tidak terganggu dengan bergeraknya  pasien, sehingga rasa sakit di bagian masuknya slang dapat dikurangi.<br />
-  Pergantian posisi badan.<br />
Usahakan agar pasien dapat merasa enak  dengan memasang bantal kecil dibelakang, atau memberi tahanan pada  slang, melakukan pernapasan perut, merubah posisi tubuh sambil  mengangkat badan, atau menaruh bantal di bawah lengan atas yang cedera.</p>
<p>d.  Mendorong berkembangnya paru-paru.<br />
- Dengan WSD/Bullow drainage  diharapkan paru mengembang.<br />
- Latihan napas dalam.<br />
- Latihan batuk  yang efisien : batuk dengan posisi duduk, jangan batuk waktu slang  diklem.<br />
- Kontrol dengan pemeriksaan fisik dan radiologi.</p>
<p>e.  Perhatikan keadaan dan banyaknya cairan suction.<br />
Perdarahan dalam 24  jam setelah operasi umumnya 500 &#8211; 800 cc. Jika perdarahan dalam 1 jam  melebihi 3 cc/kg/jam, harus dilakukan torakotomi. Jika banyaknya hisapan  bertambah/berkurang, perhatikan juga secara bersamaan keadaan  pernapasan.</p>
<p>f. Suction harus berjalan efektif :<br />
Perhatikan  setiap 15 &#8211; 20 menit selama 1 &#8211; 2 jam setelah operasi dan setiap 1 &#8211; 2  jam selama 24 jam setelah operasi.<br />
- Perhatikan banyaknya cairan,  keadaan cairan, keluhan pasien, warna muka, keadaan pernapasan, denyut  nadi, tekanan darah.</p>
<p>- Perlu sering dicek, apakah tekanan  negative tetap sesuai petunjuk jika suction kurang baik, coba merubah  posisi pasien dari terlentang, ke 1/2 terlentang atau 1/2 duduk ke  posisi miring bagian operasi di bawah atau di cari penyababnya misal :  slang tersumbat oleh gangguan darah, slang bengkok atau alat rusak, atau  lubang slang tertutup oleh karena perlekatanan di dinding paru-paru.</p>
<p>-<br />
g. Perawatan &#8220;slang&#8221; dan botol WSD/ Bullow drainage.<br />
1) Cairan  dalam botol WSD diganti setiap hari , diukur berapa cairan yang keluar  kalau ada dicatat.<br />
2) Setiap hendak mengganti botol dicatat  pertambahan cairan dan adanya gelembung udara yang keluar dari bullow  drainage.<br />
3) Penggantian botol harus &#8220;tertutup&#8221; untuk mencegah udara  masuk yaitu meng&#8221;klem&#8221; slang pada dua tempat dengan kocher.<br />
4) Setiap  penggantian botol/slang harus memperhatikan sterilitas botol dan slang  harus tetap steril.<br />
5) Penggantian harus juga memperhatikan  keselamatan kerja diri-sendiri, dengan memakai sarung tangan.<br />
6)  Cegah bahaya yang menggangu tekanan negatip dalam rongga dada, misal :  slang terlepas, botol terjatuh karena kesalahan dll.</p>
<p>h.  Dinyatakan berhasil, bila :<br />
a. Paru sudah mengembang penuh pada  pemeriksaan fisik dan radiologi.<br />
b. Darah cairan tidak keluar dari  WSD / Bullow drainage.<br />
c. Tidak ada pus dari selang WSD.</p>
<p>3.  Pemeriksaan penunjang<br />
a. X-foto thoraks 2 arah (PA/AP dan lateral)<br />
b.  Diagnosis fisik :<br />
a. Bila pneumotoraks &lt;&gt; 30% atau  hematothorax sedang (300cc) drainase cavum pleura dengan WSD, dainjurkan  untuk melakukan drainase dengan continues suction unit.<br />
c. Pada  keadaan pneumothoraks yang residif lebih dari dua kali harus  dipertimbangkan thorakotomi<br />
d. Pada hematotoraks yang massif  (terdapat perdarahan melalui drain lebih dari 800 cc segera thorakotomi.</p>
<p>4.  Terapi :<br />
a. Antibiotika..<br />
b. Analgetika.<br />
c. Expectorant.</p>
<p>E.  Komplikasi<br />
1. tension penumototrax<br />
2. penumotoraks bilateral<br />
3.  emfiema</p>
<p>II. KONSEP KEPERAWATAN<br />
A. Pengkajian :</p>
<p>Point  yang penting dalam riwayat keperawatan :<br />
1. Umur : Sering terjadi  usia 18 &#8211; 30 tahun.<br />
2. Alergi terhadap obat, makanan tertentu.<br />
3.  Pengobatan terakhir.<br />
4. Pengalaman pembedahan.<br />
5. Riwayat penyakit  dahulu.<br />
6. Riwayat penyakit sekarang.<br />
7. Dan Keluhan.</p>
<p>B.  Pemeriksaan Fisik :<br />
1. Sistem Pernapasan :<br />
a. Sesak napas<br />
b.  Nyeri, batuk-batuk.<br />
c. Terdapat retraksi klavikula/dada.<br />
d.  Pengambangan paru tidak simetris.<br />
e. Fremitus menurun dibandingkan  dengan sisi yang lain.<br />
f. Pada perkusi ditemukan Adanya suara  sonor/hipersonor/timpani, hematotraks (redup)<br />
g. Pada asukultasi  suara nafas menurun, bising napas yang berkurang/menghilang.<br />
h. Pekak  dengan batas seperti garis miring/tidak jelas.<br />
i. Dispnea dengan  aktivitas ataupun istirahat.<br />
j. Gerakan dada tidak sama waktu  bernapas.</p>
<p>2. Sistem Kardiovaskuler :<br />
a. Nyeri dada  meningkat karena pernapasan dan batuk.<br />
b. Takhikardia, lemah<br />
c.  Pucat, Hb turun /normal.<br />
d. Hipotensi.</p>
<p>3. Sistem  Persyarafan :<br />
- Tidak ada kelainan.</p>
<p>4. Sistem Perkemihan.<br />
-  Tidak ada kelainan.</p>
<p>5. Sistem Pencernaan :<br />
- Tidak ada  kelainan.</p>
<p>6. Sistem Muskuloskeletal &#8211; Integumen.<br />
a. Kemampuan  sendi terbatas.<br />
b. Ada luka bekas tusukan benda tajam.<br />
c. Terdapat  kelemahan.<br />
d. Kulit pucat, sianosis, berkeringat, atau adanya  kripitasi sub kutan.</p>
<p>7. Sistem Endokrine :<br />
a. Terjadi  peningkatan metabolisme.<br />
b. Kelemahan.</p>
<p>8. Sistem Sosial /  Interaksi.<br />
- Tidak ada hambatan.</p>
<p>9. Spiritual :<br />
- Ansietas,  gelisah, bingung, pingsan.</p>
<p>10. Pemeriksaan Diagnostik :<br />
a.  Sinar X dada : menyatakan akumulasi udara/cairan pada area pleural.<br />
b.  Pa Co2 kadang-kadang menurun.<br />
c. Pa O2 normal / menurun.<br />
d.  Saturasi O2 menurun (biasanya).<br />
e. Hb mungkin menurun (kehilangan  darah).<br />
f. Toraksentesis : menyatakan darah/cairan,</p>
<p>Diagnosa  :<br />
1. Ketidakefektifan pola pernapasan berhubungan dengan  ekpansi paru yang tidak maksimal karena akumulasi udara/cairan.<br />
2.  Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan peningkatan sekresi  sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan keletihan.<br />
3.  Perubahan kenyamanan : Nyeri akut berhubungan dengan trauma jaringan dan  reflek spasme otot sekunder.<br />
4. Gangguan mobilitas fisik berhubungan  dengan ketidakcukupan kekuatan dan ketahanan untuk ambulasi dengan alat  eksternal.<br />
5. Resiko Kolaboratif : Akteletasis dan Pergeseran  Mediatinum.<br />
6. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan trauma  mekanik terpasang bullow drainage.<br />
7. Resiko terhadap infeksi  berhubungan dengan tempat masuknya organisme sekunder terhadap trauma.</p>
<p>F.  Intevensi Keperawatan :<br />
1. Ketidakefektifan pola pernapasan  berhubungan dengan ekspansi paru yang tidak maksimal karena trauma.<br />
Tujuan  : Pola pernapasan efektive.<br />
Kriteria hasil :<br />
a. Memperlihatkan  frekuensi pernapasan yang efektive.<br />
b. Mengalami perbaikan pertukaran  gas-gas pada paru.<br />
c. Adaptive mengatasi faktor-faktor penyebab.</p>
<p>Intervensi  :<br />
a. Berikan posisi yang  nyaman, biasanya dnegan peninggian kepala  tempat tidur. Balik ke sisi yang sakit. Dorong klien untuk duduk  sebanyak mungkin.<br />
R/ Meningkatkan inspirasi maksimal, meningkatkan  ekpsnsi paru dan ventilasi pada sisi yang tidak sakit.</p>
<p>b.  Obsservasi fungsi pernapasan, catat frekuensi pernapasan, dispnea atau  perubahan tanda-tanda vital.<br />
R/ Distress pernapasan dan perubahan  pada tanda vital dapat terjadi sebgai akibat stress fifiologi dan nyeri  atau dapat menunjukkan terjadinya syock sehubungan dengan hipoksia.</p>
<p>c.  Jelaskan pada klien bahwa tindakan tersebut dilakukan untuk menjamin  keamanan.<br />
R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat mengurangi  ansietas dan mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.</p>
<p>d.  Jelaskan pada klien tentang etiologi/faktor pencetus adanya sesak atau  kolaps paru-paru.<br />
R/ Pengetahuan apa yang diharapkan dapat  mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana teraupetik.</p>
<p>e.  Pertahankan perilaku tenang, bantu pasien untuk kontrol diri dnegan  menggunakan pernapasan lebih lambat dan dalam.<br />
R/ Membantu klien  mengalami efek fisiologi hipoksia, yang dapat dimanifestasikan sebagai  ketakutan/ansietas.</p>
<p>f. Perhatikan alat bullow drainase berfungsi  baik, cek setiap 1 &#8211; 2 jam :<br />
1) Periksa pengontrol penghisap untuk  jumlah hisapan yang benar.<br />
R/ Mempertahankan tekanan negatif  intrapleural sesuai yang diberikan, yang meningkatkan ekspansi paru  optimum/drainase cairan.</p>
<p>2) Periksa batas  cairan pada botol  penghisap, pertahankan pada batas yang ditentukan.<br />
R/ Air  penampung/botol bertindak sebagai pelindung yang mencegah udara atmosfir  masuk ke area pleural.</p>
<p>3) Observasi gelembung udara botol  penempung.<br />
R/ gelembung udara selama ekspirasi menunjukkan lubang  angin dari penumotoraks/kerja yang diharapka. Gelembung biasanya menurun  seiring dnegan ekspansi paru dimana area pleural menurun. Tak adanya  gelembung dapat menunjukkan ekpsnsi paru lengkap/normal atau slang  buntu.</p>
<p>4) Posisikan sistem drainage slang untuk fungsi optimal,  yakinkan slang tidak terlipat, atau menggantung di bawah saluran  masuknya ke tempat drainage. Alirkan akumulasi dranase bela perlu.<br />
R/  Posisi tak tepat, terlipat atau pengumpulan bekuan/cairan pada selang  mengubah tekanan negative yang diinginkan.</p>
<p>5) Catat  karakter/jumlah drainage selang dada.<br />
R/ Berguna untuk mengevaluasi  perbaikan kondisi/terjasinya perdarahan yang memerlukan upaya  intervensi.</p>
<p>g. Kolaborasi dengan tim kesehatan lain :<br />
1)  Dengan dokter, radiologi  dan fisioterapi.<br />
a. Pemberian antibiotika.<br />
b.  Pemberian analgetika.<br />
c. Fisioterapi dada.<br />
d. Konsul photo  toraks.<br />
R/Mengevaluasi perbaikan kondisi klien atas pengembangan  parunya.</p>
<p>2. Inefektif bersihan jalan napas berhubungan dengan  peningkatan sekresi sekret dan penurunan batuk sekunder akibat nyeri dan  keletihan.</p>
<p>Tujuan :  Jalan napas lancar/normal</p>
<p>Kriteria  hasil :<br />
a. Menunjukkan batuk yang efektif.<br />
b. Tidak ada lagi  penumpukan sekret di sal. pernapasan.<br />
c. Klien nyaman.</p>
<p>Intervensi  :<br />
a. Jelaskan klien tentang kegunaan batuk yang efektif dan mengapa  terdapat penumpukan sekret di sal. pernapasan.<br />
R/ Pengetahuan yang  diharapkan akan membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap rencana  teraupetik.</p>
<p>b. Ajarkan klien tentang metode yang tepat  pengontrolan batuk.<br />
R/ Batuk yang tidak terkontrol adalah melelahkan  dan tidak efektif, menyebabkan frustasi.</p>
<p>1) Napas dalam dan  perlahan saat duduk setegak mungkin.<br />
R/ Memungkinkan ekspansi paru  lebih luas.<br />
2) Lakukan pernapasan diafragma.<br />
R/ Pernapasan  diafragma menurunkan frek. napas dan meningkatkan ventilasi alveolar.<br />
3)  Tahan napas selama 3 &#8211; 5  detik kemudian secara perlahan-lahan,  keluarkan sebanyak mungkin melalui mulut.<br />
4) Lakukan napas ke dua ,  tahan dan batukkan dari dada dengan melakukan 2 batuk pendek dan kuat.<br />
R/  Meningkatkan volume udara dalam paru mempermudah pengeluaran sekresi  sekret.</p>
<p>c. Auskultasi paru sebelum dan sesudah klien batuk.<br />
R/   Pengkajian ini membantu mengevaluasi keefektifan upaya batuk klien.</p>
<p>d.  Ajarkan klien tindakan untuk menurunkan viskositas sekresi :  mempertahankan hidrasi yang adekuat; meningkatkan masukan cairan 1000  sampai 1500 cc/hari bila tidak kontraindikasi.<br />
R/ Sekresi kental  sulit untuk diencerkan dan dapat menyebabkan sumbatan mukus, yang  mengarah pada atelektasis.</p>
<p>e. Dorong atau berikan perawatan mulut  yang baik setelah batuk.<br />
R/ Hiegene mulut yang baik meningkatkan  rasa kesejahteraan dan mencegah bau mulut.</p>
<p>f. Kolaborasi dengan  tim kesehatan lain :<br />
Dengan dokter, radiologi  dan fisioterapi.<br />
a.  Pemberian expectoran.<br />
b. Pemberian antibiotika.<br />
c. Fisioterapi  dada.<br />
d. Konsul photo toraks.</p>
<p>R/ Expextorant untuk  memudahkan mengeluarkan lendir dan menevaluasi perbaikan kondisi klien  atas pengembangan parunya.</p>
<p>3. Perubahan kenyamanan : Nyeri akut  berhubungan dengan trauma jaringan  dan reflek spasme otot sekunder.<br />
Tujuan  : Nyeri berkurang/hilang.<br />
Kriteria hasil :<br />
a. Nyeri berkurang/  dapat diadaptasi.<br />
b. Dapat mengindentifikasi aktivitas yang  meningkatkan/menurunkan nyeri.<br />
c. Pasien tidak gelisah.</p>
<p>Intervensi  :<br />
a. Jelaskan dan bantu klien dengan tindakan pereda nyeri  nonfarmakologi dan non invasif.<br />
R/ Pendekatan dengan menggunakan  relaksasi dan nonfarmakologi lainnya telah menunjukkan keefektifan dalam  mengurangi nyeri.</p>
<p>1) Ajarkan Relaksasi : Tehnik-tehnik untuk  menurunkan ketegangan otot rangka, yang dapat menurunkan intensitas  nyeri dan juga tingkatkan relaksasi masase.<br />
R/ Akan melancarkan  peredaran darah, sehingga kebutuhan O2 oleh jaringan akan terpenuhi,  sehingga akan mengurangi nyerinya.<br />
2) Ajarkan metode distraksi selama  nyeri akut.<br />
R/ Mengalihkan perhatian nyerinya ke hal-hal yang  menyenangkan.</p>
<p>b. Berikan kesempatan waktu istirahat bila terasa  nyeri dan berikan posisi yang nyaman ; misal waktu tidur, belakangnya  dipasang bantal kecil.<br />
R/ Istirahat akan merelaksasi semua jaringan  sehingga akan meningkatkan kenyamanan.</p>
<p>c. Tingkatkan pengetahuan   tentang : sebab-sebab nyeri, dan menghubungkan berapa lama nyeri akan  berlangsung.<br />
R/ Pengetahuan yang akan dirasakan membantu mengurangi  nyerinya. Dan dapat membantu mengembangkan kepatuhan klien terhadap  rencana teraupetik.</p>
<p>d. Kolaborasi denmgan dokter, pemberian  analgetik.<br />
R/ Analgetik memblok lintasan nyeri, sehingga nyeri akan  berkurang.</p>
<p>e. Observasi tingkat nyeri, dan respon motorik klien,   30 menit setelah pemberian obat analgetik untuk mengkaji  efektivitasnya. Serta setiap 1 &#8211; 2 jam setelah tindakan perawatan selama  1 &#8211; 2 hari.<br />
R/ Pengkajian yang optimal akan memberikan perawat data  yang obyektif untuk mencegah kemungkinan komplikasi dan melakukan  intervensi yang tepat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ilmubedah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ilmubedah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ilmubedah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ilmubedah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ilmubedah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ilmubedah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ilmubedah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ilmubedah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ilmubedah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ilmubedah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ilmubedah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ilmubedah.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ilmubedah.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ilmubedah.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmubedah.wordpress.com&amp;blog=14234127&amp;post=12&amp;subd=ilmubedah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/06/17/trauma-thorak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d04de6f8b01b8060c9ded5445cbf75d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilmubedah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Obstruksi saluran cerna pada anak</title>
		<link>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/06/17/obstruksi-saluran-cerna-pada-anak/</link>
		<comments>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/06/17/obstruksi-saluran-cerna-pada-anak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 04:21:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ilmubedah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bedah Anak]]></category>
		<category><![CDATA[Atresia intestinal]]></category>
		<category><![CDATA[Intususepsi]]></category>
		<category><![CDATA[Malrotasi]]></category>
		<category><![CDATA[obstruksi saluran cerna]]></category>
		<category><![CDATA[Obstruksi Usus]]></category>
		<category><![CDATA[volvulus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilmubedah.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Obstruksi saluran cerna Obstruksi Usus atau obstruksi saluran cerna adalah terjadinya sumbatan pada saluran cerna. Berdasarkan etiologinya, obstruksi dapat disebabkan oleh kelainan mekanis dan ileus (tidak ada kelainan organik yang nyata). Secara umum gejala dari obstruksi usus halus adalah nyeri abdominal periumbilikal, muntah (berwarna hijau apabila obstruksi terjadi di bagian proksimal usus halus, berwarna gelap [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmubedah.wordpress.com&amp;blog=14234127&amp;post=9&amp;subd=ilmubedah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div style="text-align:justify;">
<div>
<p><strong>Obstruksi  saluran cerna</strong></p>
<p><a href="http://www.bedahugm.net/obstruksi-usus-pada-neonatus/" target="_blank">Obstruksi Usus</a> atau obstruksi saluran cerna adalah terjadinya sumbatan pada  saluran cerna. Berdasarkan etiologinya, obstruksi dapat disebabkan oleh  kelainan mekanis dan ileus (tidak ada kelainan organik yang nyata).  Secara umum gejala dari obstruksi usus halus adalah nyeri abdominal  periumbilikal, muntah (berwarna hijau apabila obstruksi terjadi di  bagian proksimal usus halus, berwarna gelap jika obstruksi terjadi di  bagian bawah distal usus halus), konstipasi/diare, serta kembung. Adapun  gejala dari obstruksi usus besar  antara lain nyeri di daerah pinggang,  kembung di daerah pinggang dan pelvis, diare, konstipasi serta kembung  (jarang ditemukan, kecuali pada kasus lanjut). Jika obstruksi disebabkan  oleh tumor/keganasan maka gejalanya antara lain adanya kelemahan,  ditemukan darah pada tinja, kehilangan selera makan serta penurunan  berat badan.<span id="more-9"></span></p>
<p><strong>Kelainan mekanis</strong></p>
<p>1. Intususepsi</p>
<p>Intususepsi  sering terjadi pada usia 3 bulan-6 tahun, di mana puncaknya adalah usia  5-10 bulan dan paling sering pada laki-laki. Intususepsi merupakan  penyebab abdomen akut kedua paling sering pada kelompok usia ini. Pada  intususepsi segmen proksimal usus mengalami invaginasi ke segmen  distalnya, 95%  terjadi di ileosekal. Sedangkan intususepsi ileoileal  dan kolokolik jarang terjadi. Intususepsi ileoileal merupakan salah satu  komplikasi bedah, misalnya pada penderita tumor Wilms.</p>
<p>Anak  dengan kelainan intususepsi akan menunjukkan gejala seperti nyeri  abdominal/kolik yang sangat berat sehingga terkadang anak menarik kedua  tungkainya, gelisah, lethargy hingga shock. Muntah terjadi pada awal  kelainan dan 30% kasus muntahan mengandung empedu. Tinja dapat  mengandung darah dan mukus setelah 12 jam. Pada 20% kasus terdapat suatu  triad klasik untuk intususepsi: nyeri kolik yang hebat, massa yang  dapat teraba dengan palpasi, serta <em>currant-jelly stools</em>.</p>
<p>2. Atresia intestinal</p>
<p>Atresia  merupakan suatu kelainan di mana terjadi absen/tidak terbentuknya suatu  bagian/porsi dari saluran cerna, sehingga membentuk saluran yang buntu.  Atresia dapat terjadi di duodenum, jejunum, ileum dan kolon. Atresia  duodenum biasanya berhubungan dengan sindrom Down. Penyebab terjadinya  atresia adalah gangguan vaskular pada saat embriologi (dalam uterus)  terutama pada saat pembentukan saluran cerna, menyebabkan perfusi dan  iskemik sehingga lumen saluran cerna tidak terbentuk dengan baik bahkan  mengalami obliterasi. Selain itu gangguan/oklusi pada arteri mesenterika  superior pada masa embriologi dapat menyebabkan atresia intestinal.</p>
<p>Pada  neonatus, atresia yang paling sering terjadi adalah atresia  jejunoilealis dan stenosis (okulsi intraluminal yang inkomplet).</p>
<p>Gejala  yang timbul pada atresia antara lain distensi abdomen, muntah yang  mengandung empedu, jaundice pada 32% pasien, serta riwayat  polyhidramnion.</p>
<p>3.  Hernia inkarserasi</p>
<p>Hernia inkarserasi merupakan hernia di  mana isi dari kantung hernia tidak bisa dikembalikan ke rongga  perut/asalnya. Hernia inkarserasi dapat berupa hernia inguinal, femoral  atau umbilikal. Mayoritas hernia inguinal adalah hernia indirek. Pada  hernia inguinal, inkarserasi terjadi pada 6-18% pasien dan dapat  meningkat sampai 30% pada bayi berusia kurang dari 2 bulan. Sedangkan  hernia femoral jarang terjadi. Adapun hernia umbilikal lebih jarang  inkarserasi dan dapat menutup spontan setelah usia 5 tahun.</p>
<p>Gejala  dari hernia inkarserasi yang dihubungkan dengan obstruksi intestinal  antara lain: muntah yang mengandung empedu, distensi abdomen,  konstipasi, massa yang teraba edema dan pucat di daerah inguinal (dapat  menjadi eritematosa apabila terjadi strangulasi), dan demam apabila  terjadi nekrosis dan perforasi.</p>
<p>4. Malrotasi dan volvulus</p>
<p>Malrotasi intestinal  merujuk kepada kelainan embriologis, di mana usus tengah mengalami  gangguan perputaran terhadap sumbu arteri mesenterika superior. Bentuk  malrotasi dapat berupa nonrotasi, rotasi terbalik (situs inversus) dan  gangguan fiksasi terhadap rongga peritoneal di sekitarnya. Malrotasi  selalu terjadi bersamaan dengan gastrokisis, omfalokel, hernia diafragma  dan sering dihubungkan dengan lesi lain seperti penyakit Hirschprung,  intususepsi dan atresia (jejunum, duodenum, esofagus)</p>
<p>Pada  anak-anak, malrotasi sering terjadi karena proses perputaran yang  inkomplet dan ligamentum Treitz yang tidak terfiksasi dengan baik.  Akibatnya volvulus (puntiran) terhadap arteri mesenterika superior dapat  terjadi, menyebabkan obstruksi dan berujung pada nekrosis.</p>
<p>Gejala  dari volvulus adalah muntahan yang mengandung empedu, gagal tumbuh  kembang, terkadang nyeri kolik, feses yang menunjukkan hasil positif  pada tes guaiac, serta darah yang keluar dari rektum.</p>
<p>5. Perlekatan (adhesi) pascabedah</p>
<p>Perlekatan  pascabedah merupakan salah satu komplikasi setelah pembedahan, namun  insidensnya berkurang semenjak ditemukannya prosedur laparoskopi. Pada  perlekatan pascabedah dapat ditemukan adanya pita jaringan ikat yang  menyebabkan perlekatan segmen saluran cerna. Perlekatan pasca bedah  merupakan penyebab 7% dari obstruksi usus pada bayi dan anak. Onset  dapat terjadi mulai dari 2 hari hingga 10 tahun setelah bedah, dan 50%  di antaranya terjadi dalam waktu 3-6 bulan setelah bedah.</p>
<p>Gejala  dari perlekatan pascabedah antara lain kram/nyeri perut, anoreksia, mual  dan muntah.</p>
<p>6. Pankreas  anular</p>
<p>Pankreas anular merupakan suatu kelainan  embriologis di mana jaringan pankreas memutar mengelilingi duodenum pars  descendens . Hal ini dapat bermanifestasi sebagai keadaan asimtomatis,  namun dapat juga menyebabkan kompresi eksternal terhadap duodenum  sehingga terjadi obstruksi sebagian atau total.</p>
<p>Gejala dari  adanya  pankreas anular adalah muntah yang mengandung empedu, distensi  abdomen (proksimal dari obstruksi) dan ileus.</p>
<p>7. Hernia mesokolik</p>
<p>Hernia  mesokolik merupakan kelainan yang dapat terjadi bersamaan malrotasi, di  mana mesenterium kolon/duodenal yang tidak terfiksasi dengan sempurna  membentuk kantung hernia dan memerangkap usus (kolon) yang sedang  berotasi sehingga menyebabkan obstruksi. Hal ini dapat diperparah dengan  inkarserasi dan strangulasi. Angka insidensnya tidak diketahui dengan  pasti, namun kelainan ini cukup jarang terjadi.</p>
<p>8. Enterokolitis nekrotikans (NEC)</p>
<p>Enterokolitis  nekrotikans dapat menyebabkan striktur pada bayi–bayi prematur dan  paling sering terjadi di ileum dan kolon. Striktur tersebut dapat  menyebabkan kematian pada 15% bayi berusia lebih dari 1 minggu yang  memiliki berat lahir rendah (&lt;1500 gram). Sedangkan pada yang lainnya  striktur dapat terjadi 1-6 bulan setelah onset NEC. Penyebab NEC belum  diketahui secara pasti, namun berbagai faktor diduga terlibat seperti:  iskemik, hipoksia mukosa, invasi bakteri dan nekrosis intestinal.</p>
<p>Gejala  dari NEC umumnya kurang spesifik, antara lain lethargy, suhu tubuh yang  berubah-ubah, palpasi menunjukkan abdomen yang lemah dan eritema.</p>
<p>9. Volvulus sekal</p>
<p>Volvulus  sekal merupakan kelainan yang jarang terjadi, akibat sekum yang tidak  terfiksasi. Volvulus sekal terjadi akibat puntiran sekum, kolon  ascendens dan ileum terminal. Gejalanya antara lain nyeri, distensi,  konstipasi dan muntah.</p>
<p>10.  Kista duplikasi</p>
<p>Kista duplikasi merupakan sekelompok  kelainan yang jarang terjadi berupa duplikasi saluran cerna bagian  tertentu dan s dapat terjadi di mana saja sepanjang saluran cerna, namun  paling sering terjadi di ileum terminal. 85% kasus dapat dideteksi  sebelum usia 2 tahun. Anak dengan kista duplikasi umumnya memberikan  gejala sebagai berikut: distensi abdomen, adanya massa yang bisa teraba  dengan palpasi, muntah, perdarahan dan frekuensi berkemih yang jarang.</p>
<p>11. Ileus mekonium</p>
<p>Ileus  mekonium terjadi pada pasien dengan kistik fibrosis, di mana sekresi  pankreas eksokrin yang tidak adekuat menyebabkan terbentuknya mekonium  yang pekat. Akibatnya mekonium dapat melekat pada mukosa usus halus dan  menyebabkan obstruksi. Gejala ileus mekonium antara lain muntah,  kegagalan mengeluarkan mekonium dalam 48 jam pertama serta distensi  abdomen. Dapat terjadi peritonitis.</p>
<p>13. Tumor/keganasan</p>
<p>Tumor dapat menyebabkan  obstruksi dengan cara memblokade lumen saluran cerna.</p>
<p><strong>Ileus</strong></p>
<p>Ileus  merupakan gangguan motilitas usus namun tidak ditemukan kelainan  organik yang nyata. Pada anak ileus sering dikaitkan dengan pascabedah  atau infeksi (pneumonia, peritonitis, gastroenteritis). Pada ileus  sering ditemukan keadaan sebagai berikut: uremia, hipokalemia, asidosis,  atau adanya penggunaan obat-obatan tertentu seperti loperamid (obat  bersifat antimotilitas yang digunakan pada gastroenteritis). Ileus  paralitik, disebut juga pseudo-obstruksi, merupakan penyebab utama  obstruksi saluran cerna pada bayi dan balita. Penyebab ileus paralitik  antara lain:</p>
<ol>
<li>Kimia, elektrolit, atau gangguan mineral  (seperti turunnya kadar potassium)</li>
<li>Komplikasi bedah  intraabdominal</li>
<li>Cedera/penurunan suplai darah ke daerah  abdominal</li>
<li>Infeksi intra abdominal</li>
<li>Penyakit ginjal dan  paru</li>
<li>Penggunaan obat-obat tertentu, seperti narkotik</li>
</ol>
<p>Pada  anak, ileus paralitik mungkin terkait dengan bakteri, virus, atau  keracunan makanan (gastroenteritis) yang sebagian diasosiasikan dengan  peritonitis/apendisitis. Ileus dapat ditandai dengan adanya distensi  abdomen disertai nyeri perut, bising usus pada onset dan gambaran  air-fluid levels pada radiologi. Penatalaksanaan ileus dapat berupa  dekompresi nasogastrik atau penggunaan agen prokinetik seperti cisapride  atau erytrhomicin.</p>
<p><strong>Diagnosis</strong></p>
<p>Diagnosis  dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik (dengan  melihat tanda dan gejala) serta pemeriksaan penunjang. Pemeriksaan  penunjang dapat pemeriksaan radiologis atau pemeriksaan lain seperti  penanda tumor dll. Pada pemeriksaan radiologi untuk melihat adanya  obstruksi adalah pencitraan dengan modalitas:</p>
<ol>
<li>Abdominal  CT-SCAN</li>
<li>Abdominal X-ray</li>
<li>Barium enema</li>
</ol>
<p><strong>Tatalaksana</strong></p>
<p>Tatalaksana  bergantung kepada jenis obstruksi dan derajat keparahannya. Apabila  obstruksi bersifat parsial, maka akan diberikan cairan intravena sambil  memantau apakah obstruksi tersebut sudah hilang dengan sendirinya.  Apabila tidak, maka dilakukan tindakan bedah.</p>
<p>Selain itu  penggunaan <em>Nasogastric Tube</em> untuk mengevakuasi cairan dan gas  di saluran cerna, dengan demikian menghilangkan distensi dan muntah.  Pada intususepsi dapat dilakukan enema (udara, barium atau gastrografin)  untuk menghilangkan obstruksi. Pemasangan stent dapat dilakukan untuk  membantu pengeluaran isi saluran cerna yang terganggu oleh obstruksi.</p>
<p>Tindakan  bedah diperlukan apabila penggunaan tube tidak menghilangkan simptom,  atau ditemukan adanya tanda-tanda kematian jaringan. Misalnya pada  obstruksi akibat divertikulitis, penyakit Crohn, volvulus atau  keganasan. Tindakan bedah dapat dilakukan dengan metode laparoskopi.  Setelah pembedahan mungkin dilakukan pemasangan kolostomi/ileostomi  untuk jangka waktu sementara maupun permanen.</p>
</div>
</div>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ilmubedah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ilmubedah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ilmubedah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ilmubedah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ilmubedah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ilmubedah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ilmubedah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ilmubedah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ilmubedah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ilmubedah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ilmubedah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ilmubedah.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ilmubedah.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ilmubedah.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmubedah.wordpress.com&amp;blog=14234127&amp;post=9&amp;subd=ilmubedah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/06/17/obstruksi-saluran-cerna-pada-anak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d04de6f8b01b8060c9ded5445cbf75d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilmubedah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pneumothorak dan Hematothorak</title>
		<link>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/06/17/pneumothorak-dan-hematothorak/</link>
		<comments>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/06/17/pneumothorak-dan-hematothorak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jun 2010 04:01:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ilmubedah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bedah Thorak Kardiovaskuler]]></category>
		<category><![CDATA[Hematothorak]]></category>
		<category><![CDATA[Pneumothorak]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilmubedah.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Pneumothorak terjadi karena ada hubungan terbuka antara rongga dada dan dunia luar. &#8211;&#62;melalui luka didinding dada yang menembuspleura parietalis &#8211;&#62;melalui luka dijalan napas sampai menembus pleura visceralis Yang dapat mengakibatkan paru kolaps Waktu inspirasi udara masuk sedang pada ekspirasi udara dlm dada tetap terjadi mekanisme ventil/tension. Paru makin kolaps Penanganannya Pneumothorak : Segera pungsi pada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmubedah.wordpress.com&amp;blog=14234127&amp;post=6&amp;subd=ilmubedah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pneumothorak terjadi karena ada hubungan terbuka antara rongga dada dan dunia luar.</p>
<p>&#8211;&gt;melalui  luka didinding dada yang menembuspleura parietalis<br />
&#8211;&gt;melalui  luka dijalan napas sampai menembus pleura visceralis</p>
<p>Yang dapat  mengakibatkan paru kolaps<br />
Waktu inspirasi udara masuk sedang pada  ekspirasi udara dlm dada tetap terjadi mekanisme ventil/tension.<br />
Paru  makin kolaps<span id="more-6"></span><br />
Penanganannya <a href="http://www.bedahugm.net/pneumothoraks/" target="_blank">Pneumothorak</a> : Segera pungsi pada sic II sering  dilanjutkan WSD.</p>
<p><strong>Hematothorak</strong></p>
<p>Sering  dijumpai disini perdarahan berasal dari arteri intercostalis dan  jaringan paru<br />
Dirongga dada dapat terkumpul banyak darah tanpa gejala  menyolok<br />
Kadang gejala dan tanda yang nampak anemis dan syok  hipovolemik</p>
<p>Tindakan :<br />
-  pasang infus<br />
-transfusi<br />
-pungsi /WSD</p>
<p><strong>Tamponade Jantung</strong></p>
<p>Tertimbunnya  darah pada cavum pericardium.<br />
Gejalanya: Tekanan arteri turun<br />
Peningkatan  tekanan vena leher<br />
Bunyi jantung menjauh</p>
<p>Tindakan : -ABC</p>
<p>-Pasang infus<br />
-Oksigen<br />
-Pericardiosintesis</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ilmubedah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ilmubedah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ilmubedah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ilmubedah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ilmubedah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ilmubedah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ilmubedah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ilmubedah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ilmubedah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ilmubedah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ilmubedah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ilmubedah.wordpress.com/6/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ilmubedah.wordpress.com/6/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ilmubedah.wordpress.com/6/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmubedah.wordpress.com&amp;blog=14234127&amp;post=6&amp;subd=ilmubedah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/06/17/pneumothorak-dan-hematothorak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d04de6f8b01b8060c9ded5445cbf75d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilmubedah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Atresia Ani</title>
		<link>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/02/23/atresia-ani/</link>
		<comments>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/02/23/atresia-ani/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 23 Feb 2010 06:17:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ilmubedah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bedah Anak]]></category>
		<category><![CDATA[anus imperforate]]></category>
		<category><![CDATA[Atresia Ani]]></category>
		<category><![CDATA[Stenosis rektum]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilmubedah.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Atresia Ani adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus imperforate meliputi anus, rectum atau keduanya (Betz. Ed 3 tahun 2002) Atresia ani atau anus imperforate adalah tidak terjadinya perforasi membran yang memisahkan bagian entoderm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak sempurna. Anus tampak rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang berbentuk anus namun tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmubedah.wordpress.com&amp;blog=14234127&amp;post=21&amp;subd=ilmubedah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Atresia Ani  adalah kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus imperforate  meliputi anus, rectum atau keduanya (Betz. Ed 3 tahun 2002)</p>
<p style="text-align:justify;"><a href="http://www.bedahugm.net/atresia-ani/" target="_blank">Atresia ani</a> atau anus  imperforate adalah tidak terjadinya perforasi membran yang memisahkan  bagian entoderm mengakibatkan pembentukan lubang anus yang tidak  sempurna. Anus tampak rata atau sedikit cekung ke dalam atau kadang  berbentuk anus namun tidak berhubungan langsung dengan rectum. <span id="more-21"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Atresia Ani merupakan kelainan  bawaan (kongenital), tidak adanya lubang atau saluran anus (Donna L.  Wong, 520 : 2003).</p>
<p style="text-align:justify;">Atresia berasal dari  bahasa Yunani, a artinya tidak ada, trepis artinya nutrisi atau makanan.  Dalam istilah kedokteran atresia itu sendiri adalah keadaan tidak  adanya atau tertutupnya lubang badan normal atau organ tubular secara  kongenital disebut juga clausura. Dengan kata lain tidak adanya lubang  di tempat yang seharusnya berlubang atau buntunya saluran atau rongga  tubuh, hal ini bisa terjadi karena bawaan sejak lahir atau terjadi  kemudian karena proses penyakit yang mengenai saluran itu. Atresia dapat  terjadi pada seluruh saluran tubuh, misalnya atresia ani. Atresia ani  yaitu tidak berlubangnya dubur. Atresia ani memiliki nama lain yaitu  anus imperforata. Jika atresia terjadi maka hampir  selalu memerlukan tindakan operasi untuk membuat saluran seperti keadaan  normalnya</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">Menurut Ladd dan Gross (1966) anus imperforata dalam  4 golongan, yaitu:</p>
<p style="text-align:justify;">1.  Stenosis rektum yang lebih rendah atau pada anus<br />
2. Membran anus yang menetap<br />
3. Anus imperforata dan ujung rektum yang buntu terletak pada bermacam-</p>
<p style="text-align:justify;">macam jarak dari peritoneum<br />
4. Lubang anus yang terpisah dengan ujung</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">2.   Etiologi</p>
<p style="text-align:justify;">Atresia dapat disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain:</p>
<p style="text-align:justify;">1.  Putusnya saluran pencernaan dari atas  dengan daerah dubur sehingga bayi lahir tanpa lubang dubur</p>
<p style="text-align:justify;">2.  Kegagalan pertumbuhan saat bayi dalam  kandungan berusia 12 minggu/3 bulan</p>
<p style="text-align:justify;">3.  Adanya gangguan atau berhentinya  perkembangan embriologik didaerah usus, rektum bagian distal serta  traktus urogenitalis, yang terjadi antara minggu keempat sampai keenam  usia kehamilan.</p>
<p style="text-align:justify;">
<p style="text-align:justify;">3.  Patofisiologi</p>
<p style="text-align:justify;">Atresia ani atau anus imperforate dapat disebabkan karena :</p>
<p style="text-align:justify;">1)  Kelainan ini  terjadi karena kegagalan pembentukan <a href="http://www.bedahugm.net/anorektum/" target="_blank">septum urorektal </a>secara komplit  karena gangguan pertumbuhan, fusi atau pembentukan anus dari tonjolan  embrionik</p>
<p style="text-align:justify;">2)  Putusnya saluran  pencernaan dari atas dengan daerah dubur, sehingga bayi lahir tanpa  lubang dubur</p>
<p style="text-align:justify;">3)  Gangguan  organogenesis dalam kandungan penyebab <a href="http://www.bedahugm.net/atresia-ani-dengan-fistula-rektovestibularis/" target="_blank">atresia ani</a>, karena ada kegagalan  pertumbuhan saat bayi dalam kandungan berusia 12 minggu atau tiga bulan</p>
<p style="text-align:justify;">4)  Berkaitan dengan  sindrom down</p>
<p style="text-align:justify;">5)  Atresia ani adalah  suatu kelainan bawaan</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ilmubedah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ilmubedah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ilmubedah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ilmubedah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ilmubedah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ilmubedah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ilmubedah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ilmubedah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ilmubedah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ilmubedah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ilmubedah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ilmubedah.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ilmubedah.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ilmubedah.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmubedah.wordpress.com&amp;blog=14234127&amp;post=21&amp;subd=ilmubedah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/02/23/atresia-ani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d04de6f8b01b8060c9ded5445cbf75d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilmubedah</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Haemoroid atau Wasir</title>
		<link>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/01/06/haemoroid-atau-wasir/</link>
		<comments>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/01/06/haemoroid-atau-wasir/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 Jan 2010 05:07:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>ilmubedah</dc:creator>
				<category><![CDATA[Bedah Digesti]]></category>
		<category><![CDATA[Eksternal Hemoroid]]></category>
		<category><![CDATA[Haemoroid]]></category>
		<category><![CDATA[Internal Hemoroid]]></category>
		<category><![CDATA[Wasir]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://ilmubedah.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Definisi: Haemoroid atau Wasir adalah Pembengkakan atau peradangan pembuluh darah di rektum dan anus Diketahui: Internal Hemoroid dan Eksternal Hemoroid Gejala: • Keluar darah segar  dari anus (feses, terutama ketika akan keluar atau sesudah keluar kotoran (Tahap I) • Keluar benjolan dari dubur,  dapat dimasukkan atau tidak dapat dimasukkan (IIS tahap / d IV). • [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmubedah.wordpress.com&amp;blog=14234127&amp;post=15&amp;subd=ilmubedah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Definisi:  Haemoroid atau Wasir adalah Pembengkakan atau peradangan pembuluh darah di<a href="http://www.bedahugm.net/anorektum/" target="_blank"> rektum dan anus</a></p>
<p>Diketahui: Internal Hemoroid dan Eksternal Hemoroid</p>
<p><strong>Gejala:</strong><br />
• Keluar darah segar   dari anus (feses, terutama  ketika akan keluar atau sesudah keluar kotoran (Tahap I)<br />
• Keluar benjolan dari dubur,  dapat dimasukkan atau tidak dapat  dimasukkan (IIS tahap / d IV).<br />
• Nyeri pada  rektum,<br />
• kadang-kadang anus terasa gatal <span id="more-15"></span></p>
<p><strong>Pemeriksaan fisik</strong>:<br />
• Pucat / Anemis (pendarahan  terus-menerus)<br />
• Ada benjolan di anus (stadium  III-IV)<br />
• Nyeri pada anus (Infeksi / trombosis)</p>
<p><strong>Terapi:</strong><br />
• Tahap I &amp; II tanpa atau dengan perdarahan: rawat  jalan, kesehatan, pengaturan makanan, sclerotherapy.<br />
• Tahap III &amp;  IV: MRS, Operasi haemoroidektomi.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/ilmubedah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/ilmubedah.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/ilmubedah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/ilmubedah.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/ilmubedah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/ilmubedah.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/ilmubedah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/ilmubedah.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/ilmubedah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/ilmubedah.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/ilmubedah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/ilmubedah.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/ilmubedah.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/ilmubedah.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=ilmubedah.wordpress.com&amp;blog=14234127&amp;post=15&amp;subd=ilmubedah&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://ilmubedah.wordpress.com/2010/01/06/haemoroid-atau-wasir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/d04de6f8b01b8060c9ded5445cbf75d3?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">ilmubedah</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
